Alangkah sukacita hati Abdul Muththalib tatkala sang cucu telah lahir. segera dibawanya bayi itu ke Ka'bah. di sana dia panjatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, seraya memberinya nama Muhammad.
Sebagaimana kebiasaan masa itu, setiap bayi yang baru lahir selalu dicarikan ibu susuan. Saat itu, serombongan wanita Bani Sa'd bin Bakr dari suku Hawazin datang ke Makkah untuk mencari bayi-bayi yang hendak mereka susui dengan mengharap upah dari ayah sang bayi. selang beberapa waktu, para wanita itu telah memperoleh anak susuan masing-masing.
Tinggallah Halimah bintu Al-Harits yang belum mendapatkan bayi. Tinggallah pula seorang bayi yatim bernama Muhammad. Wanita lain tak berminat memungutnya sebagai anak susuan. mereka berpikir, apa yang bisa diharapkan dari ibu si bayi, sementara ayahnya telah tiada? begitu pulalah yang ada dalam pikiran Halimah.
Namun apa boleh buat, tak ada lagi bayi yang tersisa kecuali Muhammad kecil, sementara rombongan sudah siap bertolak pulang. Halimah pun tak ingin pulang dengan tangan kosong. berarti tak ada pilihan lain selain membawa bayi yatim itu kembali ke perkampungannya.
"Tidak mengapa kau lakukan," ujar Al-Harits, suaminya, "mudah-mudahan Allah jadikan berkah pada dirinya untuk kita.!!"
Dibawalah bayi Muhammad di atas tunggangan menuju perkampungan Bani Sa'd bin Bakr.
Semenjak Muhammad kecil berada di tangannya, keluarga Halimah senantiasa mendapat curahan berkah, bahkan nanti di kemudian hari, setelah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi seorang Rasul, berkah itu menambah seluruh suku Hawazin, hingga mereka dilepaskan dari tawanan pasukan Muslimin karena hubngan susuan ini.
Di sana, di perkampungan Bani Sa'd bin Bakr ditengah suku Hawazin, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melalui masa kecilnya dalam asuhan ibu susuan dan saudara perempuan sesusuannya yang turut mengasuhnya, asy-syaima' bintu Al-Harits bin Abdil 'Uzza bin Rifa'ah.
Saat mengasuh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, asy syaima' pernah melantunkan syair:
Duhai, Rabb kami tetapkanlah Muhammad bersama kami
Hingga kulihat dia sebagai pemuda yang tumbuh dewasa
lalu kulihat dia menjadi pemimpin yang begitu mulia.
kalahkanlah musuh-musuh dan orang yang dengki kepadnya
serta limpahkanlah kemuliaan yang kekal selamanya
Asy-Syaima' biasa menggendong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. suatu ketika, Muhammad kecil menggigit punggung Asy Syaima' hingga meninggalkan bekas.
waktu berlalu, masa berganti. tahun ke 8 hijriyah, sebulan setelah Fathu Makkah, pasukan kaum muslimin berhadapan dengan Hawazin dalam pertempuran Hunain. dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala, pasukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhasil melumpuhkan pasukan Hawazin.
sebagaimana para wanita Hawazin lain yang jatuh sebagai tawanan pasukan kaum muslimin, Asy Syaima' pun ikut tertawan.
Kepada para shahabat, Asy Syaima' mengaku, "Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pen.)"
mendengar pengakuan itu, merekapun membawa Asy Syaima' ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wahai Muhammad," ujar Asy Syaima' setiba dihadapan beliau, "Aku saudara perempuanmu sesusuan."
"apa tandanya?" tanya beliau.
"ada bekas gigitanmu di punggungku ketika dulu aku menggendongmu," tutur Asy Syaima'.
Rasulullah pun mengenali tanda syair Asy Syaima' kini telah Allah subhanahu wa ta'ala kabulkan.
Asy Syaima' bintu Al Harits, semoga Allah subhanahu wa ta'ala meridhainya..
Sumber bacaan:
- Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir (2/269,278-279)
- Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani (8/205-206)
- Al-Isti'ab, Al-Imam Ibnu 'Abdil Barr (2/538)
- Shahihus Sirah An-Nabawiyyah, Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani (hlm. 19)